![]() |
| Foto : Anie Baswedan dan Sandiaga Uno |
Bukan hanya karena mereka terlalu cinta pada Ahok tapi juga karena terlanjur benci pada Anies setelah kontestasi keduanya di Pilgub Jakarta, sebelumnya Anies tak punya cacat di mata publik, ia terlahir dari kemampuannya berbuat nyata pada bangsa ini lewat "Indonesia Mengajar" dan "Kelas Inspirasi", Tapi cinta yang terlalu pada Ahok yang kemudian menjadi penyakit benci di hati pada mereka yang berseberangan, prestasi dan kerja nyata Anies pada bangsa pun akhirnya mereka lupakan.
Sebenarnya sudah basi membincang pilgub Jakarta, karena yang terpilih sudah dilantik menduduki kursi kekuasaan, tapi di tengah gegap gempita rakyat jakarta menyambut gubernur baru, mengalir ucapan selamat dan doa semoga amanah memimpin Jakarta, meledak pula sentimen kebencian dari pihak yang kalah, seolah menunggu kapan sang gubernur terpeleset dan kalau perlu dilaporkan ke pihak berwajib
Satu kata dari isi pidato gubernur baru memantik api yang selama ini tersembunyi dalam sekam kebencian lawan politiknya, padahal 5 halaman naskah pidato yang dibacanya menjadi terabaikan di telinga dan hati para pembencinya. Mereka lebih tidak suka mendengar "pribumi merdeka", daripada kata sebelumnya "pribumi ditindas kolonialisme", seolah lupa sejarah bahwa dulu kolonialisme pernah menjajah pribumi.
Jika saja pernah membaca naskah lengkap pidato beliau, tak ada yang salah, yang salah mereka yang kepanasan mendengar 1 kata "pribumi" dan menutup telinga atas isi pidato yang lain, dan membuang ingatan akan makna pribumi yang mereka bangun semenjak Pilgub bergulir. Mereka hendak ditunjukkan naskah lengkapnya, membacanya seksama, dengan hati tenang, tapi dengar 1 kata pribumi saja sudah kepanasan, mana mau baca berhalaman kata demi kata Pak Anies yang luar biasa.
Menariknya pilgub Jakarta ternyata membawa legetimasi pada kontestasi di berbagai daerah yang akan melaksanakan Pilkada serentak, dukung-mendukung tak bisa dilepaskan pada ingatan siapa saya dan siapa anda, termasuk partai penyokong kandidat dalam pilgub Jakarta.
Pilgub Jakarta melahirkan sentimen kebencian yang berlebihan, dan terbawa sampai ke daerah lain, partai pendukung beserta poros koalisinya seolah melegetimasi daerah lain harus berlanjut, tak peduli daerah yang berbeda punya kepentingan kekuasaan yang berbeda, lain padang lain belalang tentunya.
Tak terkecuali Pilgub Sulsel yang sebentar lagi, kurang setahun gelaran kontestasi demokrasi lima tahunan berlangsung, tapi banyak yang gagal move on dari pilgub Jakarta, baik di pihak yang menang maupun yang kalah, ini tak lepas dari cinta yang terlalu dan benci yang terlalu.
Pihak yang menang di pilgub Jakarta, yang terlanjur benci pada yang kalah, berserta perangkat partai pendukungnya, dapat juga terlihat di Pilgub Sulsel, bagaimana seorang kandidat yang membutuhkan dukungan partai sebagai syarat ikut berkompetisi diatur-atur agar tak didukung oleh partai pendukung pihak yang kalah di Jakarta. Kebencian pada partai di Pilgub Jakarta membutakan hati pada figur kandidat yang sebelumnya ia dukung.
Seorang kawanku pernah bilang, "Kebencian yang sudah tertanam, memang susah melihat cahaya, makanya disarankan untuk membenci sewajarnya mencintapun sewajarnya".
#cerminhidup
#cerminhidup

Tidak ada komentar:
Posting Komentar